|
KOMPAS.COM/
GLORI K WADRIANTO
Pemerintah
Rusia Yakin Dengan Proyek Uraltrac di Kaltim
Awal
Proses
Alih Teknologi Rusia-Indonesia
ChTZ
Uraltrac
Rusia Bangun Pabrik Alat Berat di Kaltim
Pemerintah Dukung Keberadaan Uraltrac
Rusia di Kaltim
Putin : Relasi Rusia-RI Meraih
Momentum Baru
Putin : Relasi Rusia-RI Meraih Momentum
Baru
Bertemu Presiden Yudhoyono di Istana Negara Kamis Ini
Kompas, Kamis, 06 September 2007
Vilyuchinsk, Rabu - Tidak bisa dilupakan bahwa
Moskwa-Jakarta pernah memiliki hubungan yang akrab.
Sempat agak vakum, namun kini hubungan Rusia-RI meraih
momentum baru. RI adalah negara spesial bagi Rusia.
Demikian Presiden Rusia Vladimir Putin kepada pers Rusia,
Rabu (5/9), saat berada di Vilyuchinsk, kota basis kekuatan
kapal selam Rusia. Kota itu terletak di Semenanjung
Kamchatka, di utara Jepang. Dari sana Putin langsung terbang
ke Jakarta.
Menurut juru bicara kepresidenan Dino Patti Djalal, Presiden
Putin mendarat di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Kamis
dini hari pukul 00.30 WIB. Putin datang untuk membalas
kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Rusia,
Desember 2006. Jumpa pers kedua kepala pemerintahan
direncanakan digelar di halaman Istana Negara, Kamis siang
ini.
Sebagaimana diberitakan kantor berita Rusia, Ria Novosti,
Putin bertutur soal masa keemasan hubungan RI-Rusia (saat
masih berada di bawah Uni Soviet) di masa lalu. "Negara kita
adalah yang pertama mengakui kemerdekaan RI. Kita dengan
bangga mengirimkan ahli Soviet membangun pabrik baja
Krakatau Steel, jalan di Kalimantan, riset nuklir di
Yogyakarta, Rumah Sakit Persahabatan dan Gelora Bung Karno
di Jakarta," kata Putin.
Untuk memupuk rasa persahabatan itu, Rusia juga membantu RI
saat diserang tsunami pada 2004. "Saya senang karena sahabat
Indonesia kita, baik muda maupun tua -- masih mengingat
semua itu," kata Putin. "Saya tak bisa lupa untuk mengatakan
relasi antara Rusia-RI kini telah meraih sebuah momentum
baru dan menjadi isu penting di dalam agenda internasional
kedua negara," lanjut Putin.
Presiden Putin mengkonfirmasikan bahwa Rusia-RI menghargai
kedaulatan dan integritas wilayah negara- negara. Sebelum
tiba di Jakarta, Presiden Putin sudah mengeluarkan
pernyataan bahwa kunjungannya ke Indonesia akan difokuskan
pada kerja sama bilateral yang akan bermanfaat, di tengah
realitas era global kontemporer.
“Kini hubungan internasional sedang mengalami masa sulit
serta mengalami transformasi yang kritis. Maka ketika kita
harus memutuskan bentuk masa depan tatanan dunia, Indonesia
dan Rusia bersikap konsisten untuk memperkuat prinsip
kolektif dan aturan main hukum internasional," katanya.
RI-Rusia memiliki sudut pandang yang sama tentang peran dan
legitimasi PBB yang unik. "Kita juga memiliki prinsip yang
sama tentang sikap untuk tidak mencampuri urusan domestik
sebuah negara," kata Putin.
Tentang hubungan bilateral RI-Rusia, Putin mengatakan, "Kami
siap meningkatkan kerja sama dengan semua pihak yang
berkepentingan. Itu dilakukan dalam sudut pandang yang
didasarkan pembentukan tatanan dunia yang setara, yang
menjamin kestabilan dan keamanan global dan regional."
Putin menekankan Jakarta sedang memimpin upaya pencarian
kebijakan internasional yang independen dan dinamis, dan
memainkan peran konstruktif dalam masalah dunia dan
regional. "Terpilihnya RI sebagai anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB periode 2007-2008 menegaskan dukungan
internasional pada prestise RI soal itu," kata Putin.
Kepentingan khsusus
Berdialog dengan Indonesia sebagai salah satu negara
terdepan di dunia Muslim, kata Putin, jelas menjadi
kepentingan utama bagi Rusia. Putin berharap RI-Rusia akan
bisa mendorong sebuah kemitraan yang mantap dengan visi
jangka panjang, didasarkan pada persahabatan dan rasa saling
percaya.
Kantor berita Rusia yang lain, Interfax juga mengutip
pernyataan Putin yang mengatakan agar Indonesia bergabung
dengan Rusia dalam upaya pencarian perdamaian di antara
berbagai anutan agama. Rusia, demikian Putin, bersikap
terbuka untuk bergabung dalam mencari cara penciptaan
pengertian di antara berbagai agama, yang kini menjadi isu
penting. "Di Organisasi Konferensi Islam, Rusia telah
menjadi anggota pemantau berkat dukungan Indonesia," kata
Putin.
Di Jakarta, Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono mengatakan
kunjungan Presiden Putin merupakan tanda keinginan Rusia
menjalin hubungan lebih erat dengan Indonesia. Dengan Rusia,
Indonesia ingin menjalin hubungan agar ada keseimbangan
hubungan Indonesia dengan sejumlah negara besar di dunia.
"Kita memelihara keseimbangan hubungan antara negara-negara
besar termasuk pengadaan alutsista (alat utama sistem
persenjataan). Kita ingin ada keseimbangan baik dengan
Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, dan India. Semua
kita tata kembali dalam rangka kemitraan strategis dengan
masing-masing negara," ujar Menhan.
Waspadai pialang
Untuk kerja sama pertahanan dan penggunaan anggaran yang
salah satunya didapat dari pinjaman lunak Rusia sebesar satu
miliar dollar AS, Juwono mengemukakan, akan dipastikan bahwa
kebijakan satu atap satu pintu harus dihormati. "Di kedua
belah pihak (RI-Rusia) banyak rekanan dan pialang yang tidak
jelas rekam jejaknya. Ini harus diwaspadai karena selalu ada
pialang atau rekanan yang suka nyelonong," ujarnya.
Pengadaan alutsista di Indonesia menurut Juwono akan
dilakukan berjenjang. Pengamatan dilakukan angkatan,
pengajuan dilakukan Mabes TNI, dan keputusan diambil Dephan.
"Kita mencoba mengurangi kalau tidak bisa menghapuskan
pialang dan rekanan," ujarnya.
Selain soal persenjataan, Chelyabinsk Tractor
Plant-Uraltrac, industri peralatan berat asal Rusia, akan
merambah ke pasar Indonesia. Untuk tahap awal, perusahaan
bekerja sama dengan PT Minang Jordanindo (Indonesia) untuk
mengembangkan perdagangan, dan pembangunan pabrik alat
berat.
Presiden Direktur PT Minang Jordanindo, Bonny Z Minang,
mengatakan nilai investasi awal dalam kerja sama itu
mencapai 100 juta dollar AS, untuk pembangunan pabrik alat
berat dan lainnya.
(MON/INU/LKT)
Pemerintah Dukung Keberadaan
Uraltrac Rusia di Kaltim

Senin, 2
Juni 2008 | 07:40 WIB
KOMPAS.COM/ GLORI K WADRIANTO
MOSKWA, SENIN –
Pemerintah melalui Duta Besar Indonesia untuk Rusia Hamid
Awaluddin menyambut baik komitmen ChTZ Uraltrac Rusia untuk
membangun pabrik di Kalimantan Timur.
Dalam
pertemuan yang berlangsung di Wisma Indonesia, Moskwa,
Minggu malam (Senin, 2/6), dengan delegasi PT Minang
Jordanindo yang dipimpin Direktur Utama Bonny Z Minang, --sebagai
rekanan Uraltrac--, Hamid mengundang PT Minang Jordanindo
untuk hadir dalam pekan Indonesia (Indonesian Week) yang akan diselenggarakan di Moskwa bulan
September mendatang. "Kami ingin kalian menjadi
role model bagi
pengusaha-pengusaha di Rusia dan di Indonesia, bahwa saat
ini telah ada kerjasama alih teknologi yang dapat dijalankan
dengan Rusia," kata Hamid.
Sebelum ini, pada akhir pekan lalu, Hamid pun telah meninjau
langsung keberadaan pabrik Uraltrac di Chelyabinks, sekitar
dua jam penerbangan dari Moskwa. Di pabrik yang pada masa
perang dunia II memproduksi tank untuk pasukan Rusia
tersebut, Hamid menyaksikan sebagian proses produksi. "Awalnya
saya ragu. Tapi setelah saya lihat sendiri, Anda telah
melakukan kerja raksasa yang visioner. Bukan membeli tapi
melakukan hubungan dengan alih teknologi. Bayangkan jika
skrupnya saja bisa diproduksi di Indonesia, berapa banyak
rakyat yang akan mendapatkan pekerjaan," kata Hamid.
Sementara mengenai dukungan Pemerintah Indonesia, Hamid
sendiri yang menyampaikannya pada Direktur Utama Uraltrac
Valery M.Platonov akhir pekan lalu di Chelyabinks. "Kami
mendukung sepenuhnya segala upaya Uraltrac untuk melakukan
alih teknologi di Indonesia. Kami jamin Uraltrac akan sukses
di Indonesia, karena kualitas produk dan tingkat kebutuhan
alat berat yang tinggi," ujarnya kala itu.
Lebih jauh Hamid berharap agar sejumlah kesepahaman
kerjasama sejenis yang telah ditandatangani sebelumnya dapat
segera terealisasi. September 2007 lalu, Rusal dengan PT
Aneka Tambang, Pertamina dengan Lukoil, dan Bank Mandiri dan
Alfa Bank menandatangani kesepahaman di hadapan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Vladimir Putin, di
samping PT Minang Jordanindo dengan ChTZ Uraltrac.
ChTZ
Uraltrac Rusia Bangun Pabrik Alat Berat di Kaltim

Senin, 2
Juni 2008 | 07:13 WIB
KOMPAS.COM/ GLORI K WADRIANTO
CHELYABINSK, SENIN- Produsen alat berat asal Rusia ChTZ Uraltrac Rusia
bekerjasama dengan PT Minang Jordanindo merealisasikan
kesepakatan kerjasama pembangunan pabrik alat berat di
Kalimantan Timur melalui skema alih teknologi.
Pembangunan pabrik yang akan diawali dengan pabrik perakitan
yang mengambil tempat di lahan seluas 30 hektar di pesisir
Sungai Mahakam tersebut merupakan tindaklanjut dari
kesepakatan kedua pihak yang dicapai pada bulan September
silam. Kala itu di hadapan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono dan Presiden Vladimir Putin, Uraltrac dan PT
Minang Jordanindo menandatangani perjanjian kerjasama.
Presiden Direktur Uraltrac Valery M. Platonov dalam
pertemuan dengan delegasi PT Minang Jordanindo di
Chelyabinks, Rusia, akhir pekan, mengatakan kesediaan Rusia
melakukan alih teknologi berdasarkan pada pandangan bahwa
ternyata Indonesia adalah pasar yang besar.
Sebelum itu, seperti diakui Platonov pihaknya tak pernah
memperhitungkan Indonesia. "Tanpa Indonesia penjualan kami
tak ada masalah. Tapi kemudian kami sadar bahwa Indonesia
penting untuk merek kami, dan perjanjian ini bukan jual beli,
ini alih teknologi," tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Direktur PT Minang Jordanindo
Bonny Z. Minang mengungkapkan, apa yang dilakukan pihaknya
saat ini merupakan perjalanan panjang. "Kami telah melakukan
pendekatan sejak lebih dari dua tahun silam, dan akhirnya
mereka bersedia melakukan alih teknologi ke Indonesia," kata
Bonny.
Diterangkan, kerjasama alih teknologi ini akan diawali
dengan proses perakitan, lalu pembuatan 20 persen komponen.
Selanjutnya dalam jangka panjang manufaktur di bawah naungan
PT Uralindo ini akan memproduksi komponen alat berat hingga
60 persen. Pembangunan pabrik akan dilakukan pada awal tahun
2009.
Meski belum dikenal di Indonesia, Uraltrac yakin bisa
menembus pasar alat berat Indonesia yang sejauh ini hinga 70
persen masih dikuasai Caterpillar dan Komatsu. "Kami punya
pengalaman sukses di berbagai negara. Pengalaman itu yang
akan kami bawa juga ke Indonesia," kata Platonov.
Untuk menjamin standar produk, tambahnya, Uraltrac
berkomitmen untuk alih teknologi berupa pengiriman ahli dari
Rusia ke Kalimantan. Uraltrac yang selama perang dunia II
memproduksi tank untuk pasukan Rusia, meyakini produk alat
berat yang mereka hasilkan mempunyai keunggulan kompetitif
dari segi teknologi, harga dan waktu pengiriman yang lebih
cepat.
Sementara itu, Bonny sempat mengungkapkan bahwa investasi
yang ditanamkan akan mencapai 500 juta dollar AS, namun
dilakukan secara bertahap, sesuai tahapan yang telah
disepakati, yakni sosialisasi produk, perakitan, hingga
mencapai manufaktur penuh. Sebagai langkah awal, untuk
menyosialiasikan produk-produk Uraltrac, telah didatangkan
sejumlah alat berat ke Kalimantan.
Dua traktor B 10MB akan datang pada Juli. Sementara buldozer
DET-320, dan T-800 yang merupakan buldozer raksasa yang
pernah tercatat sebagai buldozer terbesar di dunia pada Guinness Book of Record tahun 1988, akan datang pada awal
tahun 2009. Pembeli pertama keempat produk ini adalah PT
Kutai Timur Investama (KTI).
Awal Proses Alih Teknologi
Rusia-Indonesia

Kompas, Sabtu, 14 Juni 2008 | 03:00 WIB
Tidak ada istilah pensiun untuk raksasa tua. T-800, buldoser
produksi Uraltrac, Rusia, sedang dalam pelayaran menuju
Indonesia untuk diterjunkan membuka lahan perkebunan baru di
Sangata, Kalimantan Timur.
Kemampuan penetrasinya menakjubkan. Jari-jarinya masuk 8
meter ke dalam tanah sekaligus menggaruk tanah lebih dari 26
meter kubik.
Raksasa tersebut sengaja kami hadirkan karena pembukaan
lahan untuk perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara
terus-menerus meningkat, kata Bonny Minang, Direktur Utama
PT Minang-Jordanindo.
Buldoser T-800 dalam Guiness Book of Records 1998 tercatat
sebagai terbesar di dunia.
Panjangnya lebih dari 12 meter, lebar 6 meter, dengan tinggi
4 meter. Kemampuannya sangat mengesankan berkat dukungan
sepasang blade tajam berukuran 2 meter lebih yang mampu
menebas hutan belantara diubah menjadi lahan perkebunan.
Buldoser raksasa seharga lebih dari Rp 9 miliar, berikut dua
traktor B-10MB bersama buldoser kecil DET-320 tersebut
dibeli oleh PT Kutai Timur Investama, sebuah perusahaan
milik pemerintah daerah (pemda). Kontrak pembeliannya
ditandatangani tanggal 1 Juni lalu di Chelyabinks, Rusia,
disaksikan Dubes RI untuk Rusia Hamid Awaluddin.
Mengantisipasi permintaan dunia
Sejak dua tahun lalu, permintaan dunia akan produk-produk
pertanian, khususnya minyak kelapa sawit, terus melonjak.
Kenyataan ini memacu keharusan membuka lahan-lahan baru
untuk segera diubah menjadi kawasan perkebunan. Selain itu,
melonjaknya harga minyak bumi dalam beberapa waktu terakhir
mengakibatkan batu bara semakin dilirik sebagai sumber
energi. Meningkatnya kedua kebutuhan tersebut memerlukan
dukungan beragam peralatan berat, yang sampai sekarang
sekitar 70 persen masih dikuasai Caterpillar buatan AS dan
Komatsu dari Jepang, sementara sisanya diisi traktor buatan
China dan Korea.
Akibat panjangnya daftar tunggu, untuk menghadirkan buldoser
diperlukan waktu setahun lebih. Bahkan untuk ukuran besar,
harus dipesan sekitar tiga tahun di muka. ”Kendala ini kami
atasi dengan menghadirkan buldoser buatan Rusia. Kualitasnya
telah teruji, teknologinya jauh lebih maju, dan waktu
penyerahan lebih singkat, dengan hanya punya sebuah kendala,
merek CzHT belum dikenal…,” kata Bonny Minang.
Valery Platonov, Chief Executive Officer Uraltrac,
mengungkapkan, ”Selama ini kami sudah beroperasi di lebih
dari 30 negara, mulai dari Afrika sampai Amerika Selatan.
Tentu saja, kami berharap juga akan meraih sukses di
Indonesia.” Pabrik Uraltrac, seluas 220 hektar, berada di
Chelyabinsk, di Pegunungan Ural, Asia Tengah, sekitar dua
jam penerbangan dari Moskwa, ibu kota Rusia.
Produksi pertama Uraltrac diluncurkan tahun 1933, sebuah
traktor sederhana dengan nama Stalinets-60, sesuai nama
penguasa Kremlin, Joseph Stalin. Enam tahun kemudian,
traktor tersebut sudah muncul dalam versi militer, berbentuk
tank bernama Stalinets-2.
Produk tersebut muncul dengan tepat karena tidak lama
kemudian Hitler melancarkan Operasi Barbarossa menyerbu ke
Rusia, yang masa itu masih dikenal sebagai Uni Soviet.
Tentara Stalin ternyata sanggup bertahan dan akhirnya malah
membalikkan arah pertempuran, ganti menyerbu ke barat dan
akhirnya berhasil menduduki Berlin dengan dukungan tank-tank
produk lokal. Pasukan Nazi tidak sanggup mendekati Moskwa,
apalagi menjangkau dan menghancurkan pusat industri tank
sebab berada jauh di pelosok, di bagian timur Rusia.
”…kini kami tidak lagi membuat tank, zaman sudah berubah.
Tetapi harap diketahui, kami pembuat traktor pertama dengan
mesin diesel, bahan bakarnya murah dan kinerjanya lebih
tangguh,” kata Platonov. Setiap tahun, Uraltrac menghasilkan
4.000 unit beragam tipe peralatan berat, mulai dari buldoser
sampai mesin pemasang kabel. Pada upacara peringatan ulang
tahun Uraltrac ke 75 awal Juni ini di Chelyabinsk, hadir
wakil dari 90 kantor penjualan mereka di seluruh penjuru
dunia.
Alih teknologi Rusia
Pengiriman buldoser raksasa eks Rusia ke Kaltim merupakan
tindak lanjut kerja sama antara PT Minang-Jordanindo dan
ChTZ Uraltrac akhir September 2007 yang disaksikan Presiden
Alexander Putin dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. PT
Minang-Jordanindo, usaha patungan antara Indonesia dan
Jordania, nantinya tidak hanya akan berfungsi sebagai
dealer. Meski awalnya berperan selaku perakit, sudah
disepakati bahwa pada tahap-tahap berikutnya keterlibatan
mereka dalam proses produksi akan semakin besar.
Bonny Minang mengungkapkan, ”Prosesnya lama dan sangat
melelahkan karena sejak dua tahun lalu kami harus melobi
mereka agar diberi kepercayaan dilibatkan dalam proses
produksi.” Untuk itu telah disiapkan lahan seluas 20 hektar
di tepi Sungai Mahakam, Kaltim, sebagai areal calon pabrik
dengan dana investasi sebesar 500 juta dollar AS yang akan
cair secara bertahap.
”Kami bertekad mengenalkan teknologi Uraltrac ke Indonesia,
sebagai bagian awal proses alih teknologi mengingat pasarnya
masih sangat luas,” kata Valery Platonov. Dalam kata-kata
Bonny Minang, ”…kami coba T-800 di hutan belantara
Kalimantan Timur agar masyarakat mengenalnya. Sesudah
beroperasi selama 5.000 jam tanpa masalah, mereka pasti
yakin mengenai kualitasnya.”
Dalam kesepakatan yang telah disetujui bersama, pabrik
pembuat peralatan berat di Kalimantan Timur milik PT
Minang-Jordanindo akan mengawali dengan tahap merakit.
Disusul kemudian dengan membuat sekitar 20 persen komponen.
Sampai nantinya berlanjut sehingga 60 persen produksi
dikerjakan di sini. Selain bisa menyerap banyak tenaga
kerja, juga bakal membuahkan beragam keuntungan. Konsep ini
sekaligus menjamin ketersediaan komponen berikut mendekatnya
dukungan pelayanan kepada pelanggan.
Apa yang sedang dirintis Bonny Minang merupakan sebuah
langkah maju. Persetujuan kerja sama niaga antara Indonesia
dan Rusia beberapa waktu lalu disepakati dalam empat paket.
Selain Minang-Jordanindo dengan Uraltrack, berturut-turut
terjadi kesepakatan kerja sama antara Pertamina dan Lukoil,
PT Aneka Tambang dan Rusal diikuti Bank Mandiri dan Alfa
Bank dari Rusia.
Dubes Hamid Awaluddin langsung mengundang PT
Minang-Jordanindo ikut pameran dalam Pekan Indonesia di
Moskwa awal September mendatang, ”Kalian telah merintis
kerja sama visioner, bukan hanya sekadar membeli melainkan
mengawali proses alih teknologi. Saya ingin kalian menjadi
role model, baik bagi pengusaha Rusia maupun Indonesia yang
masih meragukan keunggulan teknologi Rusia beserta semua
kemudahan dalam sistem pembayarannya.”
Julius Pour Wartawan dan Penulis Buku
Pemerintah
Rusia
Yakin Dengan Proyek Uraltrac di Kaltim

Duta
Besar
Rusia untuk Indonesia Alexander Ivanov.
Selasa,
17 Juni 2008 | 08:07 WIB
JAKARTA,
SELASA -
Pemerintah
Rusia meyakini kerjasama alihteknologi yang dilakukan pabrik
alat berat Rusia, ChTZ Uraltrac di Kalimantan Timur,
merupakan proyek yang sangat menjanjikan. Bahkan, kerjasama
yang dilakukan oleh Ultratrac dan PT Minang Jordanindo,
sebagai rekanan dari Indonesia, merupakan awal bagi
perkembangan investasi Rusia di Tanah Air.
Untuk itu, Rusia menyambut baik kerjasama yang dilaksanakan
oleh Uraltrac dan PT Minang Jordanindo untuk membangun
pabrik perakitan pada kawasan seluas 30 hektar di pesisir
Sungai Mahakam, Samarinda. Sikap Pemerintah Rusia tersebut
disampaikan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Alexander
Ivanov yang ditemui Kompas.com di kediamannya di kawasan
Kuningan, Jakarta, kemarin (Senin, 16/6).
Sebelumnya, Ivanov memberikan penjelasan mengenai pergelaran
balet Rusia di Jakarta.
Ivanov mengaku yakin Uraltrac mampu bersaing dengan
perusahaan alat berat lainnya yang sudah terlebih dulu
berinvestasi di indonesia. “Harga yang dikeluarkan oleh
Uraltrac 30 persen lebih murah dari yang dijual oleh
Carterpillar (perusahaan alat berat AS-red).
Saya pikir Uraltrac akan mampu bersaing dengan perusahaan
lainnya yang sudah lebih dulu ada di kalimantan,” tegasnya.
Ia juga mengatakan, investasi pabrik alat berat bukan
satu-satunya penanaman modal yang telah dilakukan di
Indonesia. Rusia juga melakukan kerja sama di bidang
teknologi, yakni peluncuran satelit di Biak. Papua. Selain
itu Rusia juga melakukan kerjasama di bidang energi dalam
bentuk eksplorasi minyak dan gas.
Sebelumnya
pada
September 2007 lalu, Rusal dengan PT Aneka Tambang,
Pertamina dengan Lukoil, dan Bank Mandiri dan Alfa Bank
menandatangani kesepahaman di hadapan Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono dan Presiden Vladimir Putin, di samping PT
Minang Jordanindo dengan ChTZ Uraltrac.
(M12-08)
|