Corporate Info

Business Units

Releases

Contact Us

Home

Award

 

 

Menarik dana berlebih Rusia ke RI

 

Minang Jordanindo siap kerjasama dengan Rusia

 

KTI & Titan bangun PLTU di Kutim

 


Senin, 09/06/2008 10:22 WIB

 

Menarik dana berlebih Rusia ke RI

oleh : Firman Hidranto

 

Minang Jordanindo mengundang sejumlah wartawan Indonesia, termasuk Bisnis Indonesia, mengunjungi Rusia 26 Mei hingga 3 Juni. Selain menyaksikan kesepakatan bisnis, Minang Jordanindo dan ChTZ Uraltrac Rusia, kami juga mendapatkan gambaran peluang bisnis yang bisa digarap pengusaha Indonesia terhadap negara itu. Berikut laporannya.
***
Rusia kini telah kembali menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru dunia. Itu semua tidak terlepas dari berkah harga minyak dunia. Ekonomi negara itu memang sempat terpuruk pada 1998, namun telah bangkit kembali dengan tingkat pertumbuhan 7% per tahun.

 

Itu semua tidak terlepas dari kebijakan reformasi ekonomi secara radikal yang dilakukan Boris Yeltsin setelah Uni Soviet mengalami kebangkrutan. Kebijakan ekonomi terbuka itu tetap dilanjutkan oleh penerus Yeltsin, Vladimir Putin.

 

Kini, ketika tampuk pucuk pimpinan negara berpindah tangan ke Dmitry Medvedev dari Putin yang berpindah jabatan menjadi perdana menteri pada 7 Mei, Rusia tercatat sebagai negara dengan produk domestik bruto (PDB) mencapai US$2,076 triliun pada 2007.

 

Kebijakan ekonomi terbuka Rusia diperkirakan tidak akan berubah ketika jabatan Presiden Rusia di tangan Medvedev. Harga minyak mentah dunia yang kini berkisar di level US$130 per barel dan tahun depan bisa tembus pada level US$150 per barel menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi negara itu.

 

Apabila tren harga minyak tetap seperti saat ini, Rusia akan menjadi oil economic giant dan bisa memengaruhi pasar energi pada masa datang. Hal itu disebabkan oleh negara ini memiliki cadangan migas terbesar di dunia. Begitu juga cadangan batu baranya.

 

Wajar konsentrasi kebijakan ekonomi negara ini adalah di sektor migas. Selain migas, Rusia juga fokus ekspansi di industri berat karena mereka memiliki keunggulan teknologi di industri itu.

 

Dalam konteks Indonesia, bagaimana negara ini bisa memanfaatkan dana berlebih Rusia? Saat inilah memontum yang tepat bagi Indonesia untuk mulai mendekatkan diri ke Rusia.

 

Menurut Dubes Indonesia untuk Rusia Hamid Awaluddin, negara itu kini cukup agresif melakukan ekspansi ke luar negeri. Hal itu dilakukan Rusia, lanjutnya, karena perkembangan ekonominya meningkat drastis sejak menerapkan sistem ekonomi terbuka.

 

"Ekonomi negara itu kini meningkat drastis. Dana mereka [Rusia] sedang melimpah selain juga memiliki keunggulan di bidang teknologi. Ini yang harus diraih Indonesia," katanya.

 

Kondisi itu diakui Wakil Presiden Kadin Ural Selatan Igor Aristov. Swasta Ural Selatan, ujarnya, berminat melakukan investasi di Indonesia. Sebagai gambaran, swasta di wilayah itu telah mengeluarkan dana untuk investasi 100 miliar rubel, tetapi investasi ke luar negeri baru mencapai 2 miliar rubel.

 

"Kami sangat senang adanya kerja sama swasta dari Chelyabinsk [masuk wilayah Ural Selatan] dengan Indonesia. Kami juga berminat menanamkan investasi di sektor lainnya, termasuk perdagangan."

 

Berkaitan dengan nilai perdagangan Indonesia dengan Rusia, Sekretaris Pertama bidang Ekonomi Kedutaan Besar RI untuk Rusia Widjoseno Sastroamidjojo menjelaskan nilai perdagangan RI-Rusia telah mencapai US$904 juta hingga akhir 2007, dan tahun ini ditargetkan mencapai US$3 miliar. Dari total nilai perdagangan sebesar itu, sebanyak US$1 miliar berupa pinjaman Rusia untuk memenuhi pengadaan alutsista Indonesia.

 

Pengalaman Minang

 

Dari gambaran di atas, potensi dana berlebih Rusia belum dimanfaatkan secara maksimal oleh Indonesia. Peningkatan hubungan dagang dengan hanya mengandalkan negara harus diakui tidak selentur yang dilakukan swasta.

 

Pengalaman Minang Jordanindo mungkin bisa menjadi model bagi swasta Indonesia menggarap peluang bisnis dengan mitra swasta Rusia lainnya. Minang Jordanindo berhasil menggaet ChTZ Uraltrac untuk menanamkan investasinya sebesar US$500 juta, berupa pabrik perakitan hingga manufaktur penuh alat berat di Kalimantan Timur.

"Saya masuk dan berpartner dengan pengusaha Rusia sudah dirintis sejak dua setengah tahun lalu.Tidak mudah Uraltrac percaya dan bersedia masuk ke pasar Indonesia," tutur Presdir Minang Jordanindo Bonny Z. Minang

 

Dia menceritakan Uraltrac harus diberi keyakinan terlebih dahulu sehingga bersedia menanamkan investasinya di Indonesia. Sebenarnya, nama mereka cukup dikenal di Eropa Timur, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin.

 

"Saya mencontohkan Uraltrac itu ibarat Tsar, Kaisar Rusia jaman dulu. Nah, Uraltrac harus meluaskan pasarnya ke Indonesia. Potensi pasar negara itu cukup besar, apalagi sektor pertambangan dan agribisnis lagi booming," tuturnya.

 

Bonny mengakui merek Uraltrac belum cukup dikenal di Indonesia walau secara teknologi produk perusahaan alat berat asal Chelyabinsk itu tidak kalah bersaing dibandingkan dengan produk sejenis, seperti Komatsu, Caterpillar, atau Hitachi.

 

Apa yang dilakukan Minang Jordanindo patut dicontoh pelaku bisnis Indonesia lainnya untuk menggarap peluang bisnis dengan Rusia.

 

Harus diakui masih banyak hambatan untuk menarik investasi dan perdagangan negara itu, salah satunya belum dibukanya L/C antarkedua negara. Namun, hambatan itu bisa menjadi peluang bagi Indonesia. (firman.hidranto@bisnis.co.id)

 

 

Minang Jordanindo siap kerjasama dengan Rusia

oleh : Dewi Astuti


JAKARTA (Bisnis): PT Minang Jordanindo, perusahaan rekondisi alat berat bekas dan perdagangan alat berat, akan mengeluarkan dana US$1,5 juta untuk program pendukung pra-pendirian joint venture dengan Chelyabinsk Tractor Plant-Uraltrac Ltd.

Chelyabinsk Tractor Plant-Uraltrac Ltd merupakan perusahaan alat berat milik Pemerintah Rusia. Pada September lalu bertepatan dengan kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Jakarta, perusahaan itu berminat membentuk joint venture bersama Minang Jordanindo untuk memproduksi alat berat di Tanah Air dengan investasi awal US$100 juta.

Dalam rencana kerja sama itu akan dibangun pabrik di Kalimantan yang akan memproduksi bulldozer, wheeloader, dan escavator dan dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir 2008.

Bonny Z. Minang, Presdir Minang Jordanindo, mengatakan dana US$1,5 juta dipakai untuk membiayai program pendukung sebelum konstruksi pabrik didirikan.

"Itu [US$1,5 juta] untuk pengiriman sejumlah mekanik asal Indonesia, kunjungan perusahaan tambang menengah-besar dan kalangan perbankan ke Rusia, serta pelaksanaan pameran alat berat di Jakarta," katanya kepada Bisnis hari ini.

Sementara itu, kunjungan kalangan pertambangan menengah-besar dan perbankan ke pabrik Uraltrac seluas 300 ha di Russia serta pelaksanaan pameran di Jakarta ditujukan untuk melihat respons semua pihak mengenai nilai lebih pembentukan joint venture yang diperkirakan akan menyerap 2.000 tenaga kerja tersebut.
(tw)

 

 

Selasa, Juni 3, 2008

KTI & Titan bangun PLTU di Kutim


Oleh : Firman Hidranto, Bisnis Indonesia
Posted by : Tahmid Harnadi

 

MOSKWA: PT Kutai Timur Investama dan Grup Titan akan membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berkapasitas 2x25 dengan nilai investasi US$75 juta yang diharapkan bisa beroperasi pada 2010.

Presdir Kutai Timur Investama (KTI) Anung Nugroho mengatakan rencana pembangunan PLTU itu kini masih terus dibahas dengan PT PLN (persero) karena menyangkut pembelian listrik.

"Kami harapkan negosiasi soal harga listrik dan surat izin lainnya dari PLN bisa tuntas segera. Dengan demikian, kami bisa segera membangun PLTU itu di Kabupaten Kutai Timur (Kutim)," katanya kemarin.

Dalam rangka pembangunan PLTU itu, tuturnya, KTI telah menggandeng Grup Titan dengan komposisi kepemilikan saham masing-masing 20% untuk KTI dan Grup Titan sebesar 80%. Perusda Kutim itu juga merencanakan pembangunan PLTU yang lebih besar dan masuk ke dalam jaringan listrik trans-Kalimantan.

Anung mengakui ada kendala dana untuk mengimplementasikan rencana bisnis KTI itu. Oleh karena itu, KTI berencana menjual kepemilikan sahamnya di Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar 5% kepada PT Minang Jordanindo (MJ).

Menurut dia, tujuan penjualan saham kepada MJ diharapkan mendatangkan dana segar untuk merealisasikan ekspansi bisnis Grup KTI. "Soal penjualan saham itu, MJ kini melakukan due dilligence terhadap PT Kutai Timur Energi, anak perusahaan KTI."

Presdir PT Minang Jordanindo Bonny Z. Minang mengakui persero itu kini melakukan due dilligence terhadap Kutai Timur Energi untuk mengakuisisi saham perusahaan itu di KPC.

KTI sendiri berencana akan masuk ke bisnis perkebunan kelapa sawit, pembelian sejumlah konsesi pertambangan (KP) batu bara, pembangunan terminal batu bara, dan pembangunan jalur KA sepanjang 150 km di Kalimantan Timur dan kawasan industri serta eksplorasi minyak dan gas.

Bahkan, tambahnya, KTI juga akan terlibat dan akan ikut memiliki saham di PT Uralindo. Uralindo merupakan perusahaan baru yang bergerak di bidang pembuatan alat berat dengan menggunakan merek Uraltrac Rusia.

Berkaitan dengan keikutsertaan KTI di perusahaan pabrikasi alat berat yang akan dibangun awal tahun depan tersebut, Bonny Z. Minang mengatakan tidak menutup kemungkinan itu.


 

 Corporate Info

Business Units

Heavy Equipment


Scrap Metal


Mining


Aerospace


Aprotech


Energy Plantation


Food Industry


Agro Business


General Trading


 

   | Home | Site Map | Career |

August 21, 2008

Adhi Graha Building, 15th Floor, Suite 1502, Jl. Gatot Subroto Kav. 56, Jakarta 12950,

Tlp. : +62 21 526 2545 Fax. : +62 21 526 2416, e-mail : emjegroup@minangjordanindo.com

 

emjemail