 |
Memancing
Kakap dari Beruang Merah
Angin perubahan di bekas wilayah Uni Soviet tidak cuma
berembus di arena politik.
Dalam bidang ekonomi, negara
yang dulu sangat tertutup lantaran paham komunisme yang
dianutnya itu kini gencar membuka diri. Di bawah pimpinan
Presiden Vladimir Putin, perekonomian Rusia yang dulu sempat
terpuruk kini terus menggeliat. Mantan staf KGB (agen
rahasia pada masa Uni Soviet) itu pun rajin merangkul negara
sedang berkembang untuk menjadi mitra bisnis.
Pekan lalu, misalnya, Putin bertandang ke Indonesia,
memboyong tak kurang dari 110 pengusaha Rusia.
Ini bukan kunjungan biasa.
Agaknya para pengusaha Rusia mulai serius melirik bisnis di
Indonesia. Tidak main-main, dalam pertemuan dengan Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono di Hotel Ritz Carlton, pekan lalu,
Putin ikut menyaksikan penandatanganan beberapa proyek kerja
sama antara pengusaha Rusia dan Indonesia. Total nilai
investasi yang ditanam Rusia di bumi Nusantara mencapai US$
4 milyar atau setara dengan Rp 37,6 trilyun.
Dalam skala bisnis
internasional, investasi sejumlah itu memang tidak terlalu
istimewa. Namun, menyimak sejarah hubungan RI-Rusia, kerja
sama bisnis kali ini tergolong luar biasa. Lihat saja,
setelah lima dekade, baru kali ini Presiden Rusia bertandang
ke Indonesia. Pemimpin Uni Soviet yang terakhir berkunjung
ke Indonesia adalah Nikita Kruschev pada 1960, ketika
Presiden Soekarno masih menjabat. Pada saat itu pula
terjalin poros Jakarta-Moskow untuk melawan dominasi
negara-negara kapitalis yang dikomandani Amerika Serikat.
Setelah Orde Baru berkuasa, hubungan dagang RI-Rusia
berjalan tersendat-sendat. Begitu pula pasca-Orde Baru,
Indonesia masih belum dilirik para konglomerat "negeri
beruang merah" yang ketika itu mulai menggeliat. Terbukti
dari catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahwa
komitmen investasi pengusaha Rusia di Indonesia hanya US$
14,070 juta dalam 10 tahun terakhir. "Itu pun hanya
terealisasi US$ 110.000 di sektor transportasi, pergudangan,
telekomunikasi, dan pelayanan jasa," ungkap Kepala BKPM,
Muhammad Lutfi.
Menurut Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia Komite
Rusia dan CIS, Didie W. Soewondho, neraca perdagangan
RI-Rusia memang sangat kecil.
Namun, pada paruh terakhir
tahun ini, agaknya Rusia mulai serius merangkul Indonesia.
Hal itu ditunjukkan dengan
kedatangan para pengusaha kakap Rusia ke Jakarta. Bersama
Putin, turut pula Chairman Lukoil, Vagit Alekperov, yang
menduduki peringkat ke-37 orang terkaya di dunia versi
majalah Forbes tahun lalu.
Lukoil yang dipimpin jutawan dengan kekayaan US$ 11 milyar
itu adalah perusahaan minyak terbesar di Rusia. Selain
mengeksplorasi minyak di luar negeri, Lukoil juga sudah
mengepakkan sayap ke Eropa Timur, Kazakstan, dan Venezuela.
Bahkan di industri hilir, anak usaha Lukoil sudah merambah
ke Amerika.
Kini Lukoil mengincar ladang minyak di Klamono dan Semai,
Papua. Juga Blok Bunyu di Kalimantan Timur, dengan investasi
awal US$ 1,5 milyar atau sekitar Rp 14 trilyun. Bersama
Pertamina, Lukoil bakal bahu-membahu mengeduk minyak bumi di
Blok Bunyu. Selain menyetor duit, Lukoil juga berjanji
memasok alat dan fasilitas pengeboran tercanggih pada saat
ini.
Masih di bidang energi, selain mengajak Vagit Alekperov,
Putin juga menggandeng bos United Company (UC) Rusal, Oleg
Deripaska. Milyarder yang menempati urutan ke-62 orang
terkaya di dunia itu mengendalikan perusahaan yang menguasai
16% pangsa pasar aluminium dunia. UC Rusal adalah perusahaan
hasil merger dua raksasa pengolah aluminium Rusia, Rusal dan
Sual, dengan produsen aluminium Swiss, Glencore, Maret lalu.
Selain UC Rusal, ada pula pejabat dari Gazprom, perusahaan
gas terbesar di dunia pada saat ini, yang ikut dalam
rombongan Putin. Pada saat ini, Gazprom merupakan pemasok
utama gas untuk negara-negara Eropa. Baik Rusal maupun
Gazprom mengincar bisnis tambang di Indonesia, terutama di
Kalimantan.
UC Rusal bakal menggandeng PT Aneka Tambang (Antam) untuk
mengeksploitasi aluminium di Kalimantan Barat. Kongsi dua
perusahaan tambang itu berencana membangun pabrik pengolahan
aluminium senilai US$ 1 milyar, dengan kapasitas produksi 1
juta ton aluminium per tahun.
Menurut Direktur Pengembangan Antam, Darma Ambiar,
penjajakan kerja sama dengan pihak Rusia itu dirintis sejak
setahun lalu. "Dari beberapa perusahaan dunia yang berniat
menggandeng kami, UC Rusal paling baik dari sisi manajemen,
modal, teknologi, dan jaringan," ujar Darma. Dalam kontrak
tersebut, Rusal bertugas memasok dana segar dan teknologi,
sedangkan PT Antam kebagian menyuplai bahan baku.
Selain tiga raksasa pertambangan itu, masih ada beberapa
perusahaan migas yang kepincut oleh kekayaan alam yang
terkandung di perut bumi Nusantara. Antara lain Sintez
Group.
Sintez adalah perusahaan minyak milik Leonid Lebedev. Pria
kelahiran 1956 ini juga menduduki deretan orang kaya Rusia.
Majalah Finansmag Rusia mencatat kekayaan Leonid
mencapai US$ 115 juta atau setara dengan Rp 1 trilyun. Dalam
kontrak kerja sama kali ini, Sintez pun merangkul Pertamina
untuk mengolah ladang minyak di beberapa tempat di
Indonesia. Modal yang akan dikucurkan Sintez Group ditaksir
mencapai US$ 3 milyar lebih.
Selain Sintez, ada pula Tyuman Oil Company-BP yang baru
dalam taraf penjajakan. Selain itu, sebuah perusahaan
pelaratan berat, khususnya untuk kebutuhan pertambangan,
yang berbasis di Rusia, Chelvabinsk Tractor Plant, akan
menjalin mitra dengan PT Minang Jordanindo, pemilik PT Kutai
Timur Energi yang menguasai 5% saham Kaltim Prima Coal
(KPC). "Perusahaan itu sudah menandatangani MoA (master
of agreement), bukan MoU (master of understanding)
lagi," ungkap Didie.
Bukan hanya sektor pertambangan yang menjadi pemikat para
konglomerat Rusia. Sektor lain turut pula dilirik. Antara
lain bisnis telekomunikasi, militer, dan perbankan. Alfa
Group, misalnya, ikut terpancing menggeluti sektor perbankan
dan telekomunikasi. Bahkan perusahaan raksasa milik Mikhail
Fridman itu sudah tercium jejaknya di Indonesia sejak
setahun silam.
Dalam konstelasi bisnis di Rusia, Fridman termasuk milyarder
paling disegani. Pria 42 tahun itu masuk daftar lima orang
terkaya di Rusia dan peringkat ke-50 orang terkaya di dunia.
Bersama rekan kuliahnya di Moscow Institute of Steel and
Alloys, German Khan dan Alexel Kuzmichov, Fridman
menggabungkan tiga usaha di bidang foto, trading, dan
investasi menjadi Alfa Group. Konglomerat Rusia itu akhirnya
merambah ke bidang telekomunikasi dan perbankan setelah
mengakuisisi Alfa Bank.
Alfa Group juga menebarkan jaringan retail dengan bendera
Pyaterochka Holding NV dan Perekrestok Group of Companies.
Kini hampir semua lini bisnis di Rusia dikuasai Alfa Group.
Dengan memiliki lebih dari 15 perusahaan raksasa, Alfa Group
siap mendunia, termasuk merambah bisnis telekomunikasi dan
perbankan di Indonesia.
Lewat bendera Altimo, yang menjadi sayap bisnis Alfa Group
di sektor telekomunikasi, Alfa Group merangsek ke Indonesia.
Tahun lalu, Altimo datang dengan janji menanam duit di jalur
telekomunikasi hingga senilai Rp 18 trilyun. Vice President
Altimo, Kirill Babaev, mengaku sedang mengincar perusahaan
seluler di Indonesia yang memiliki jaringan luas. "Tapi kami
perlu beradaptasi lebih dulu dalam ketatnya persaingan
bisnis seluler di Indonesia," ujar Kirill.
Menurut Didie, masuknya para konglomerat Rusia ke berbagai
bidang di Indonesia itu menggambarkan sebuah perubahan
drastis di negeri beruang merah. Namun tidak mudah memulai
babak baru bermitra dengan para investor Rusia. Lantaran
puluhan tahun berada dalam situsi politik yang unik, warga
Rusia selalu ingin memiliki referensi atau jaminan dalam
berbisnis. "Jadi, tidak ada cerita, mereka datang langsung
mengucurkan duit segar, sebab rasa curiga mereka tinggi
sekali," kata Didie.
Sama halnya dengan jejaring kekuasaan, para pebisnis Rusia
juga memegang sistem bossy. Artinya, kekuasaan ada di
satu tangan, baik di perusahaan maupun pemerintahan. "Jadi,
percuma kita ngomong sama orang yang bukan penentu
kebijakan," ujar Didie. Toh, kendala budaya itu akhirnya
lebur demi kepentingan bisnis yang saling menguntungkan.
Heru Pamuji dan Hatim Ilwan
[Laporan Khusus, Gatra Nomor 44 Beredar Kamis,
13 September 2007]
|