|
Date |
: |
Sep 4
2007 11:00PM |
|
Media |
: |
MediaIndonesiaOnline |
|
Content |
: |
|
Rusia Alih Teknologi, Bangun Pabrik Alat
Berat di Indonesia
Penulis: Hanum
JAKARTA--MIOL: Kedatangan Presiden Rusia Vladimir
Putin ke Indonesia yang membicarakan masalah kerjasama
ekonomi dan perdagangan telah menghasilkan beberapa
kesepakatan.
Chelyabinsk Tractor Plant, salah satu produsen alat berat
terbesar asal Rusia, berencana membangun pabrik di
Indonesia. Niat tersebut diwujudkan melalui head
agreement dengan antara kedua kepala negara, yang
ditandatangani Kamis ini (6/9).
Investasi senilai US$100 juta itu dilakukan secara patungan
antara Chelyabinsk, pemegang merek Uraltrac, dengan PT
Minang Jordanindo (MJ), yang bergerak di bidang rekondisi
peralatan berat bekas dan perdagangan alat berat.
"Perusahaan berkomitmen untuk membawa teknologi dan
pengetahuan tersebut ke Indonesia, sehingga alat-alat
tersebut dapat diproduksi di Indonesia," kata Presiden
Direktur MJ Bonny Z Minang kepada wartawan, di Jakarta, Rabu
(5/9) malam.
Ia menjelaskan, pembangunan pabrik akan dilakukan di salah
satu daerah di Kalimantan. Namun, Bonny belum memastikan
lokasinya karena masih mengalami kendala dalam perizinannya.
"Belum dipastikan. Tahap awal yang akan kita bangun adalah
workshop di sana untuk memberikan training pada
tamatan-tamatan SMA," ujarnya.
Bonny berharap operasional pabrik dapat dimulai pada akhir
2008. Target pemasaran alat berat Uraltrac dapat menyebar
hingga ke Papua, yang terkenal dengan limpahan kekayaan
alamnya.
"Saat ini mungkin cuma pertambangan.
Tapi ke depan ini akan ke seluruh sektor seperti minyak,
gas, dan pembuatan jalan," kata dia.
Perusahaan itu berharap kerjasama dengan Chelyabinsk dapat
memberikan kontribusi dalam peningkatan volume perdagangan
antara RI-Rusia.
"Ini juga dilakukan untuk meningkatkan volume perdagangan
antara kedua negara yang sekarang US$350 juta dengan target
US$1,5 miliar," ucapnya.
Menurut Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin), bentuk
kerjasama RI-Rusia ke depan akan meningkatkan volume
perdagangan hingga 50%.
"Dengan adanya penguatan kerjasama ini, saya kira mungkin
akan meningkat volume perdagangan RI-Rusia sampai 50% tahun
ini," kata Wakil Ketua Kadin Bidang Perdagangan dan
Distribusi K Suardhana Linggih.
Apalagi, ujarnya, industri pertambangan diperkirakan akan
tumbuh pesat di masa yang akan datang. Untuk itulah
diperlukan ketersediaan alat-alat berat dalam menunjang
proses penambangan.
Menurut Bonny, hal itu merupakan suatu peluang yang harus
diambil di tengah dominasi alat berat dengan merek tertentu.
"Kami melihat ada kesempatan jika melihat perkembangan
sektor pertambangan dalam negeri, karena negara kita kaya
mineral. Tapi ada dominasi pasar dalam penggunaan alat berat
dengan merek tertentu dari Jepang dan Amerika Serikat,"
ungkapnya.
Padahal, ketergantungan terhadap suatu produk tanpa
mengetahui sama sekali teknologinya akan menimbulkan
kemunduran dalam perekonomian. Apalagi, ujarnya, selama ini
produsen tidak pernah memberikan layanan purna jual dan
transfer teknologi yang berdampak pada pemberian lapangan
kerja.
"Kita melihat pasar Rusia yang juga dikenal pertambangannya
karena mereka juga kaya mineral. Kita mencoba meyakinkan
mereka. Bukan hanya sebagai pembeli tapi juga bagaimana
membawa teknologi mereka ke negeri kita," paparnya.
Bonny mengatakan, produsen alat berat Chelyabinsk sudah
berdiri sejak 1933, dengan produksi awalnya berupa mesin
berbasis traktor.
Selama Perang Dunia II, Chelyabinsk memproduksi tank yang
disuplai ke pemerintah Rusia. Sebanyak 18.000 unit tank
medium dan berat, 48.500 mesin tank diesel, dan 17,7 juta
keping amunisi berhasil diproduksi pada masa itu dengan
merek Tankogard.
Selama itu pula, Chelyabinsk berhasil menciptakan 13 tipe
tank baru dan 6 tipe tank diesel.
"Ketika perubahan politik terjadi di Rusia dan mereka
mengubah tank itu menjadi alat berat, kita lihat kesempatan
ini. Kita minta mereka menjamin untuk memproduksi alat berat
beserta suku cadang dan teknologinya," imbuh Bonny.
Di negara asalnya, Chelyabinsk termasuk salah satu pelopor
industri peralatan berat dengan sertifikat keberhasilan
sistem manajemen mutu ISO 9001-2001. Sertifikasi itu
membuktikan sistem manajemen kualitas untuk desain,
pengembangan, produksi, perawatan, dan perbaikan produk.
Saat ini, porsi terbesar produk yang dihasilkan adalah mesin
pembangunan jalan sebanyak lebih 60%. Sedangkan sisanya
merupakan produk suku cadang untuk mesin pembangunan jalan
yang menjadi 23,2% dari keseluruhan produksi.
"Kita tidak produksi tank lagi tapi mesin diesel. Mesin kami
mudah, berguna dan dipakai semua negara di dunia," kata
Direktur Utama Chelyabinsk Valeriy M Platonov.
Produk Uraltrac sudah diekspor ke-29 negara antara lain,
Kazakhstan, Ukraina, Tajikistan, Turkmenistan, Belarus,
India, Romania, Hungaria, Mongolia, Mesir, Sudan, Negeria,
dan Aljazair.
Produk utama mereka ada lebih dari 1.974 jenis antara lain
buldozer dengan transmisi mekanis atau hidromekanis, traktor
kehutanan dengan traksi katrol, pemasang pipa dengan
kapasitas 12 sampai 20 ton, penghalus jalan, dan pemadat.
(Zhi/OL-03)
|